Wednesday, May 21, 2014

MAKALAH ASAS ASAS MANAGEMEN “ASAS KEPEMIMPINAN DALAM MANAGEMEN“


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

       Manajemen adalah suatu proses pengaturan atau ketatalaksanaan untuk mencapai suatu tujuan dengan melibatkan orang lain. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber – sumber lainya secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan tertentu. Ada banyak fungsi manajemen yang diungkapkan oleh para ahli manajemen, seperti : Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Commanding (Pemberian Komando), Coordinating (Pengkoordinasian), Controlling (Pengawasan) oleh Henry Fayol.

       Sebagai pemimpin selain harus memiliki karakter kepemimpinan, juga harus menguasai fungsi-fungsi manajerial. Fungsi manajerial inilah yang akan membantu pemimpin untuk menjalankan organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Perlu diingat bahwa jika seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan manajerial, maka ia hanya akan mampu merumuskan dan menentukan visi/misi organisasi kedepan, namun tidak mampu untuk menjalankan seluruh aktivitas organisasi menuju pencapaian visi/misi organisasi tersebut. Untuk itu sebagai pemimpin mengenal fungsi-fungsi manajerial adalah sangat penting, karena manajemen merupakan seni dalam pengelolahan organisasi guna pencapaian tujuan organisasi


            Menurut Keith Davis, actuating adalah kemampuan membujukorang-orang mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh semangat .Pemimpin yang efektif cenderung mempunyai hubungan denganbawahan yang sifatnya mendukung (suportif) dan meningkatkan rasapercaya diri menggunakan kelompok membuat keputusan. Keefektifan kepemimpinan menunjukkan pencapaian tugas pada rata-rata kemajuan,keputusan kerja, moral kerja, dan kontribusi wujud kerja. Prinsip utama dalam penggerakan adalah bahwa perilaku dapat diatur, dibentuk, atau diubah dengan sistem imbalan yang positif yang dikendalikan dengan cermat.


B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam maklah ini adalah:
1.        Bagaimana definisi Kepemimpinan ?
2.        Teori – teori apa saja yang dipakai dalam asas kepemimpinan ?
3.        Apa saja bentuk – bentuk asas Kepemimpinan ?
4.        Bagaimana level-level dalam kepemimpinan?
5.        Apa saja tugas pokok kepemimpinan?
6.        Apa fungsi dari asas kepemimpinan?


C.  Tujuan
1.      Menjelaskan definisi tentang kepemimpinan
2.      Menjelaskan teori – teori yang dipakai dalam asas kepemimpinan
3.      Menjelaskan bentuk-bentuk asas kepemimpinan
4.      Menjelaskan level-level dalam kepemimpinan
5.      Menjelaskan tugas pokok kepemimpinan
6.      Menjelaskan fungsi dari asas kepemimpinan
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1                            Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan mempunyai arti yang berbeda-beda tergantung pada sudut pandang atau perspektif-perspektif dari para peneliti yang bersangkutan, misalnya dari perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Berikut beberapa definisi kepemimpinan menurut para ahli :
a.  Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)

b.  Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell)

c.  Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik).

d.  Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn)

e.  Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan (Rauch dan Behling)

f.  Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques)

g.  Menurut Wahjosumidjo (1984: 26) butir-butir pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan makna :

Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan.
Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri
Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi.



2.2              Teori-Teori Kepemimpinan
a.  Teori Atribusi Kepemimpinan
                   Teori ini adalah suatu teori hubungan antara persepsi individu dan prilaku antar pribadi. Teori ini mengatakan bahwa pemahaman akan dan kemampuan memprediksi bagaimana orang akan bereaksi atas suatu peristiwa dapat ditingkatkan dengan mengetahui penjelasan sebab dari peristiwa itu.
Teori ini menyangkut atribusi pemimpin, dimana pemimpin harus dapat menggolongkan sebab dari prilaku pengikut/bawahan apa termasuk kategori: : manusia, kesatuan, atau konteks. Contoh peristiwa jeleknya kualitas. Ini apa disebabkan manusia (missal: kemampuan tidak memadai), Tugas (kesatuan administrasi, koordinasi bagian atau lainnya yang ada), atau beberapa kejadian unik yang mengelilingi kejadian (konteks).
Atribusi seorang pengikut, dimana disini kejadian, tingkah laku bawahan digolongkan menjadi : Keistimewaan, konsistensi, dan Konsensus. Misalnya; seorang bawahan melakukan tugas sehingga kualitas hasil berkualitas jelek. Apa ini hanya pada tugas itu saja, tugas-tugas yang lainnya tidak jelek (keistimewaan). Apa sering ia melakukan kejelekan ini, dibagian tertentu sering, atau dibagian-bagian yang lainpun untuk bawahan ini sering (konsistensi). Apa bawahan yang lain untuk pekerjaan ini, dibagian ini, kualitasnya jelek (consensus).
       Apakah sebab itu internal (kurangnya upaya bawahan) atau sebab eksternal (diluar kendali bawahan, misal: alatnya sudah tua, kondisi kerja yang tidak baik dll). Bila pemimpin membuat atribusi internal maka gaya kepemimpinannya cenderung menghukum, kekerasan dll.:

b.    Teori Sifat
                   Teori ini berusaha mengidentifikasi karakteristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang diasosiasikan dengan keberhasilan kepemimpinan. Diidentifikasi ; Intelegensia: Penyesuaian diri, mampu memutuskan, pengetahuan dan kelancaran bicara dll. Kepribadian: individualisme, kreatif (independent dalam melakukan respon), penyesuaian diri, kesigapan, integritas pribadi, percaya diri dan keseimbangan emosional dan kemandirian control (non-conformity) dll, dianggap cirri kepmimpinan yang baik/effektif. 
                   Karakteristik Fisik : lebih besar dan tinggi diasosiasikan memiliki peluang yang lebih untuk memimpim dibandingkan lainnya. Kemampuan :  Kemampuan untuk mendapatkan kerjasama, Populer dan berpengaruh, Sosiabilitas, partisipasi sosial, taktis dan diplomatis.
       Teori ini dikritik karena 1) daftar sifat takterbatas hanya itu, 2) Skor tes yang dilakukan mengandung subjektifitas ada jalinan pengaruh lain 3) pola prilaku effektif sangat bergantung pada situasinya.

c.     Teori Pribadi-Prilaku
                   Teori ini mencari tahu bagaimana prilaku pemimpin menentukan effektifitasnya. Ada beberapa penelitian disini: Studi dari universitas of Michigan, ada dua kategori yaitu :
1) Kepemimpinan yang berpusat pada pekerjaan, disini pemimpin mengawasi secara ketat pekerjaan dan kinerja bawahan.
2) Pemimpin berpusat pada Karyawan, pemimpin hanya mengawasi secara umum pekerjaan orang lain. Ia berusaha agar orang lain merasakan otonoi dan dukungan. Kritik pada teori ini adalah siplifikasi, hanya dua kategori saja.
       Studi dari Ohio State University, ada dua kategori yang dilihat dari pemimpin yaitu :
1) Membentuk struktur —- Tindakan dari kepemimpinan berarti pembentukan struktur tugas dan tanggung jawab dari pengikut.
2) Konsiderasi — Tindakan dari pemimpin yang menunjukkan dukungan bagi pengikutnya dalam suatu kelompok.

d.  Teori Situasional
       Suatu pendekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami perilakunya,sifat-sifat bawahannya dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostic dalam perilaku manusia. Pemimpin yang effektif disini harus menyesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan bawahan dan situasinya.

e. Teori  Kontingensi
                   Teori ini mengatakan effektifitas kepemimpinan tergantung dari interaksi gaya kepemimpinan dan situasi yang mendukung. gaya kepeimpinan, Dalam gaya kepemimpinan yang dilihat seperti :
1) Berpusat pada karyawan dan pekerjaan (pencetusnya Likert),  ini menghasilkan peningkatan produksi namun dalam waktu lama menimbulkan penekanan dan penolakan, melalui absensi, turn-over karyawan. Gaya terbaik berpusat pada karyawan.
2) Membentuk Struktur dan Konsiderasi (pencetusnya: Fleisman, Stogdill dan Shartle)  kombinasi dari menciptakan struktur dan konsiderasi dalam situasi menentukan effektifitasnya. Dalam situasi yang dilihat adalah:
a) Hubungan Pemimpin-Anggota — ini mengacu pada derajat keyakinan, kepercayaan dan rasa hormat yang didapatkan pemimpin dari pengikutnya.
b) Struktur tugas —- ini mengacu pada bagaimana terstrukturnya tugas dengan mempertimbangkan persyaratan, alternative pemecahan masalah dan unpan balik pada keberhasilan kerja.
c) Kekuasaan Posisi — ini mengacu pada kekuatan inheren dalam posisi kepemimpinan.

f. Teori  Path-Goal (jalur tujuan)
                   Teori ini beranggapan bahwa seorang pemimpin perlu mempengaruhi persepsi pengikutnya mengenai tujuan kerja, tujuan pengembembangan diri dan cara-cara pencapaiannya. Disini disimulasikan ada 4 prilaku pemimpin yaitu;
1) Direktif, cenderung membiarkan bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka.
2) Suportif, memperlakukan bawahan dengan derajat yang sama.
3) Partisipatif, meminta pendapat bawahan dan mempertimbangkan saran dan ide mereka sebelum mencapai suatu keputusan.
4) Orientasi pada prestasi,  menetapkan tujuan-tujuan yang menantang, mengharapkan bawahan untuk memberikan prestasinya pada tingkat yang paling tinggi, dan secara terus menerus melakukan perbaikan prestasi.
Tiga sikap bawahan yaitu 1) Kepuasan kerja, 2) penerimaan terhadap pemimpin dan 3) pengharapan terhadap hubungan usaha- prestasi- penghargaan.
                   Hasil studi empiris menemukan : Ketika struktur tugas (pengulangan dan rutinitas pekerjaan) tinggi, prilaku pemimpin yang direktif berhubungan negative terhadap kepuasan. Juga, ketika struktur tugas rendah, perilaku kepemimpinan direktif berhubungan positif terhadap kepuasan. Ketika struktur tugas tinggi, kepemimpinan Supportif berhubungan positif terhadap kepuasan, dst.

g. Teori  Kepemimpinan Situasional Hersey- Blanchard
                   Penekanan teori ini pada pengkut dan tingkat kematangan mereka. Disini Pemimpin harus dapat menilai secara benar atau intuitif mengenai tingkat kematangan pengikut-pengikutnya kemudian menyesuaian gaya kepemimpinannya dengan kematangan pengikut-pengikutnya.
       Disini Hersey-Blanchard menggunakan studi Ohio State dan mengembangkan empat  gaya kepemimpinan, yaitu :
1) Mengatakan/Telling. Pemimpin mendefinisikan peran-peran yang dibutuhkan untuk melakukan tugas dan mengatakan pada pengkutnya apa, dimana, bagaimana dan kapan untuk melakukan tugas-tugasnya.
2) Menjual/Selling. Pemimpin menyediakan intruksi-intruksi terstruktur bagi pengikutnya, tetapi juga suportif.
3) Berpartisipasi/Participating. Pemimpi dan pengikut saling berbagi dalam keputusan-keputusan mengenai bagaimana yang paling baik untuk menyelesaikan suatu tugas dengan kualitas tinggi.
4) Mendelegasikan/Delegating. Pemimpin menyediakan sedikit pengarahan secara seksama, spesifik atau dukungan pribadi terhadap pengikut-pengikutnya. Problem disini adalah: Apakah orang dalam posisi kepemimpinan semudah ini untuk menyesuaikan?

h. Teori  Pendekatan Hubungan Berpasangan Vertikal
                   Teori ini mengatakan bahwa tidak ada hal seperti perilaku kepemimpinan yang konsisten terhadap seluruh bawahan. Tiap hubungan satu-satu memiliki keunikannya sendiri-sendiri.
                   Disini dibedakan dua kelompok yaitu; 1) kelompok dalam —- dimana keterbukaan, kultur,dan peluang mobilitas keatasnya lebih berpotensi. Biasanya kelompok ini menerima tugas-tugas yang menantang dan imbalan yang berarti. 2) Kelopok luar—– dimana keterbukaan, kultut dan mobilitas keatas lebih rendah, karena tidak dipilih oleh pemimpin sebagai setipe.

i.    Teori  Substitusi Kepemimpinan
                   Ini adalah karakteristik tugas, organisasional, dan bawahan yang dapat menggantikan prilaku kepemimpinan. Seorang pemimpin akan memiliki sedikit atau tidak sama sekali pengaruh bila ada situasi ini. Misalnya: Pegawai yang berpengalaman, terlatih secara baik, berpengetahuan tidak membutuhkan seorang pemimpin untuk menstruktur tugas (bagi seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas).




2.3                            Bentuk-Bentuk Kepemimpinan
a.     Model Vroom-Jago (Revisi)
Model ini menetapkan prosedur pengambilan keputusan kepemimpinan. Kepemimpinan paling efektif dalam masing-masing dari beberapa situasi yang berbeda yaitu :
1) Autokrasi — dibagi menjadi ; AI (dimana pemimpin memutuskan sendiri), AII (mencari informasi dari bawahan dan memutuskan sendiri).
2) Konsultatif —- dibagi menjadi ; CI (Pemimpin berbagi masalah dengan bawahan, mendapat ide dan usulan mereka, lalu pemimpin membuat keputusan), CII (sama hanya ada rapat kelompok bawahan dengan pemimpin sebelum membuat keputusan).
3) Satu bauran keputusan pemimpin dan kelompok yaitu GII (Pemimpin dan bawahan berbagi masalah bersama-sama, membangkitkan, mengevaluasi alternative-alternatif dan berusahan mencapai consensus).

b. Kepemimpinan Karismatik
Karisma dari bahasa Yunani yang artinya “Bakat”. Kepemimpinan Karismatik adalah kemampuan untuk mempengaruhi pengikut berdasarkan pada baker supranatural dan kekuatan yang menarik. Pengikut menikmati karismanya pemimpin karena mereka merasa memperoleh inspirasi, kebenaran dan penting. Mereka biasanya bekerja berdasarkan visi dan dalam kondisi kritis.
Perkembangan pemimpin karismatik: Pertama: pemimpin secara kontinyu menilai lingkungan, menyesuaikan dan merumuskan sebuah visi tentang apa yang harus dilakukan. Sasaran pemimpin dibentuk. Kedua : Pemimpin menyampikan visinya kepada para pendukung, menggunakan cara apapun yang perlu. Ketiga : Dititik beratkan dengan bekerja berdasarkan kepercayaan dan komitmen. Mengerjakan hal-hal yang tak terduga, mengambil resiko dan menjadi ahli secara teknis. Keempat : Pemimpin karismatik bekerja sebagai model dan motivator.

c.     Kepemimpinan Transaksional Dan Tranformasional
Kepemimpinan Transaksional adalah kepemimpinan dimana pemimpin membantu para pengikut mengenali apa yang disenangi dan diinginkan dan membantu mereka mencapai tingkat pelaksanaan yang menghasilkan penghargaan yang memuaskan dari pencapaian keinginan mereka. Pendekatan ini menggunakan konsep Path-goal sebagai kerangka kerjanya. Contoh: Upah-prestasi, Jabatan-gaji dll.
Kepemimpinan Tranformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin memiliki kemampuan untuk memberikan inspirasi dan memotivasi para pengikut untuk mencapai hasil-hasil yang lebih besar dari pada yang direncanakan secara orisinil/formal untuk imbalan internal.
Faktor-faktor kepemimpinan tranformasional dalam penelitian Bass (Leadhership Performance) adalah :
1)                 Karisma : Pemimpin mampu menanamkan suatu rasa nilai, hormat, dan kebanggaan dan untuk mengutarakan sutau visi dengan jelas.
2)                 Perhatian individual : Pemimpin memberi perhatian pada kebutuhan para pengikut dan menugaskan proyek-proyek berarti sehingga para pengikut tumbuh sebagai pribadi.
3)                 Rangsangan Intelektual : Pemimpin membentu para pengikut berfikir kembali dengan cara-cara rasional untuk memeriksa sebuah situasi. Ia mendorong para pengikut agar kreatif.
4)                 Penghargaan yang tak terduga : Pemimpin memberitahu para pengikut tentang apa yang harus dilakukan untuk menerima perhargaan yang lebih mereka sukai.
5)                 Manajemen dengan pengecualian : Pemimpi pengijinkan para pengikut untuk mengerjakan tugas dan tidak mengganggu kecuali bila sasaran-sasaran tidak dicapai dalam waktu yang masuk akal dan biaya yang pantas.

2.4                            Level  Kepemimpinan
2.4.1                      Level Kepemimpinan menurut John C. Maxwell
John C. Maxwell, membagi kepemimpinan menjadi lima level yang harus dilewati. Menurutnya, jika kepemimpinan itu diibaratkan seperti anak tangga, terdapat lima tangga utama yang harus dilewati oleh para pemimpin­an di dalam organisasi. mengenai Level Kepemimpinan dari John C. Maxwell

1. Level Posisi (Position).
Inilah level kepemimpinan yang paling rendah. Pada dasarnya, orang mengikuti Anda karena ‘kebetulan’ mereka tidak punya pilihan sebab Andalah yang dipercaya untuk memegang posisi tersebut.  Pada level ini, otoritas seorang pemimpin hanya terbatas di posisi ini. Bawahan merasa hanya perlu berinteraksi sekadar untuk mendapatkan tanda tangan dan persetujuan.
Namun, di level ini, banyak bawahan tidak merasa dimiliki oleh atasannya, sehingga tak heran di belakang mereka sering mengata-ngatai bos mereka ini.  Pada kenyataannya, ada banyak pemimpin yang bertahun-tahun di posisi ini, tetapi tetap tidak pernah naik ke level berikutnya.

2. Level Hubungan (Permission).
Di sinilah orang mulai mengikuti bukan karena ‘harus’ tetapi karena mereka ‘ingin’.  Di level inilah, pengaruh Anda sebagai pimpin­an mulai kelihatan. Sebenarnya, ketika memasuki level ini, sudah terjadi kontak batin serta mulai ada chemistry antara orang yang dipim­pin dengan yang memimpin.  Proses interaksi mulai terjadi dan hubungan pun mulai terbangun. Hanya saja, jika seorang pemimpin terlalu lama di tangga ini, bisa jadi ia menjadi sangat populer di mata bawahannya, hubungan baik tetapi hasil dan output-nya bisa kurang memuaskan.
Itulah sebabnya seorang pemimpin tidak boleh terlalu lama di tangga ini.  Pada Level ini hubungan sewajarnya tetap terjada dalam kerangka Bisnis dan Professionalisme bukan semata Kedekatan dan Kesediaan bawahan terhadap atasan.  Konsep Like and Dislike dapat menjadi Dominan pada level ini, dan sebaiknya Anda sebagai Pemimpin tidak berlama-lama di tangga tersebut.


3. Level Menghasilkan (Production).
Kalau level kedua banyak berbicara mengenai pandang­an tentang Anda di mata karyawan level ketiga ini mulai berbicara mengenai pandangan Anda di mata manajemen.  Masalahnya, di sinilah orang mulai melihat bagaimana output team yang Anda hasilkan, setelah Anda mulai memimpin suatu tim. Jika seorang pemimpin sudah berhasil sampai di level ini, selain terdapat kontak batin yang baik antara pemimpin dan anak buahnya, juga terdapat hasil yang bisa dibanggakan.

4. Level Pengembangan Orang (People Development).
Di sinilah, seorang pemimpin tahu bahwa ia tidak bisa menjadi sukses sendirian, atau hanya dirinya yang mampu sementara anak buahnya bergantung adanya.  Saatnya bagi seorang pemimpin mulai meluangkan waktunya melakukan proses coaching dan counseling ataupun mentoring untuk mendidik orang-orang di bawahnya agar mampu menapaki tahapan berikutnya.  Pengembangan Orang pada level ini adalah menciptkan Pemimpin Baru agar kesinambungan organisasi terus berjalan.
Sayangnya, banyak pemimpin yang terlambat sekali tiba di level ini. Jangan sampai terjadi ungkapan berikut, “Saya sudah Tua dan saya agak terlambat menyiapkan orang-orang untuk menggantikan saya. Sekarang, saya sudah sakit-sakitan. Saya mulai membagikan semua ilmu yang saya miliki untuk orang-orang yang diproyeksikan akan memimpin bisnis ini di masa depan. Saya tidak tahu, apakah waktu saya masih akan mencukupi untuk itu”

5. Level Kepribadian (Personhood).
Pada Level ini nilai Kepemimpinan adalah Anugerah, jikalau Level 1 adalah pemberian maka Level 5 ini menjadi Nilai Sempurna seseorang pada Tingkat Kepemimpinannya.  Menurut Maxwell, tidak banyak pemimpin yang bisa sampai di level kepemimpin­an ini. Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh kepemimpinan yang termasuk di kategori ini selain para Nabi dan Rasul di zamannya.



2.4.2           Level Kepemimpinan Menurut James Scouller
James Scouller penulis buku ‘The Three Level of Leadership: How to Develop Your Leadership Presence and knowhow and Skill’  ada tiga tingkat model kepemimpinan yang perlu diketahui yakni kepemimpinan public, private, dan personal. Tiga model itu sebagai fitur utama untuk mengembangkan keterampilan dan perilaku pemimpin menjadi lebih baik.

a.    Level 1 – Kepemimpinan publik
Kepemimpinan publik mengacu pada tindakan atau perilaku yang membawa pemimpin untuk memengaruhi dua orang atau lebih secara bersamaan. Kepemimpinan publik ini bisa dicontohkan dalam sebuah rapat atau kelompok yang lebih besar.
Dalam kepemimpian tersebut masyarakat diarahkan untuk:
·         Menyetujui penetapan visi dan misi yang bertujuan menjaga kesatuan sebuah kelompok atau organisasi untuk masa depan.
·         Membawa energi positif dan menciptakan standar kerja yang tinggi dan memberikan semangat kerja serta kepercayaan kepada tim.
·         Berhasil mendorong tindakan kolektif dalam berorganisasi
Menurut Scouller perilaku seorang pemimpin publik sebaiknya memiliki kualitas-kualitas berikut :
·         Mampu menetapkan visi organisasi, tetap fokus kepada tujuan
·         Mampu melakukan perencanaan, pengorganisasian, memberi kekuasaan pada orang lain
·         Menguasai teknik pemecahan masalah, pengambilan keputusan
·         Pelaksanaan organisasi
·         Kelompok bangunan dan pemeliharaan dalam kelompok

b.      Level 2 – Kepemimpinan private
Kepemimpinan private menyangkut penanganan secara individu bagi seorang pemimpin. Tugas dari kepemimpinan private ini seperti penilaian kinerja seseorang dalam suatu organisasi serta memberikan semangat kepada setiap individu dalam kelompok atau organisasi tersebut.
Menurut Scouller kepemimpinan pribadi bisa mengurangi beberapa perilaku yang kurang baik dari setiap individu. Perilaku ini seperti citra negatif, kekhawatiran dari setiap individu terhadap kelompok atau organisasi itu sendiri dan lain sebagainya.



c.       Level 3 – Kepemimpinan untuk diri sendiri
Kepemimpinan bagi dirinya sendiri yakni kepemimpinan untuk perkembangan psikologis dan moral yang berdampak terhadap cara ia memimpin.
Menurut Scouller kepemimpinan untuk diri sendiri ada tiga unsur, yaitu:

1. Bagaimana sikap terhadap orang lain
Unsur ini adalah mengembangkan sikap yang benar terhadap rekan kerja, dengan mengusung visi dan misi bersama. Sikap yang benar adalah percaya bahwa orang lain sama pentingnya dengan diri sendiri dalam menjalankan tugas kelompok maupun organisasi.
Jika seorang pemimpin mempunyai sikap menghargai terhadap orang lain, ini akan memengaruhi banyak orang mempercayai kepemimpinan mereka dan pastinya banyak orang yang akan mau bekerja sama dengan dia.

2. Penguasaan diri
Ini menekankan tentang kesadaran diri dan kebebasan dalam memerintah seseorang. Banyak pemimpin yang menghindari perdebatan yang kuat misalnya dalam diskusi.  Coba biarkan mereka bertindak secara otentik  dalam berinovasi.
Menurut Scouller pengusaaan diri adalah proses psikologis bagi para pemimpin. Maka perlu teknik untuk menguasai perubahan yang ada pada diri mereka.

3. Mengetahui teknis dan keterampilan
Unsur ini menekankan pada bagaimana mengetahui kelemahan teknis seseorang dan mengambil tindakan untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seseorang.




2.5                            Tugas Pokok Kepemimpinan
  Tugas pokok seorang pemimpin yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti yang telah disebutkan sebelumnya yang terdiri dari: merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi.

Terlaksananya tugas-tugas tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh pimpinan seorang diri, tetapi dengan menggerakan orang-orang yang dipimpinnya. Agar orang-orang yang dipimpin mau bekerja secara erektif seorang pemimpin di samping harus memiliki inisiatif dan kreatif harus selalu memperhatikan hubungan manusiawi.
Secara lebih terperinci tugas-tugas seorang pemimpin meliputi: pengambilan keputusan menetapkan sasaran dan menyusun kebijaksanaan, mengorganisasikan dan menempatkan pekerja, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan baik secara vertikal (antara bawahan dan atasan) maupun secara horisontal (antar bagian atau unit), serta memimpin dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan.
Secara umum, tugas-tugas pokok pemimpin antara lain :
a. Melaksanaan Fungsi Managerial, yaitu berupa kegiatan pokok meliputi pelaksanaan :
- Penyusunan Rencana
- Penyusunan Organisasi Pengarahan Organisasi Pengendalian Penilaian
- Pelaporan

b. Mendorong (memotivasi) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun

c. Membina bawahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing secara
baik

d. Membina bawahan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien

e. Menciptakan iklim kerja yang baik dan harmonis

f. Menyusun fungsi manajemen secara baik

g. Menjadi penggerak yang baik dan dapat menjadi sumber kreatifitas

h. Menjadi wakil dalam membina hubungan dengan pihak l





2.6                            Fungsi Kepemimpinan
2.6.1           Fungsi Kepemimpinan menurut Hadari Nawawi
Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Hadari Nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungn langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi sosial keiompok atau organisasinya.
                   Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu:
1) Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya.
2) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin.

                    Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:
1. Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.

3. Fungsi Partisipasi.
Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.

4. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.

5. Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.



2.6.2           Fungsi Kepemimpinan menurut William R. Lassey
Menurut William R. Lassey dalam bukunya Dimension of Leadership, menyebutkan dua macam fungsi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan, yaitu :

1. Fungsi menjalankan tugas
Fungsi ini harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Yang tergolong fungsi ini adalah :
a. Kegiatan berinisiatif, antara lain usul pemecahan masalah, menyarankan gagasan – gagasan baru, dan sebagainya.
b. Mencari informasi, antara lain mencari klasifikasi terhadap usul – usul atau saran serta mencari tambahan informasi yang diperlukan.
c. Menyampaikan data atau informasi yang sekiranya ada kaitannya dengan pengalamannya sendiri dalam menghadapi masalah yang serupa.
d. Menyampaikan pendapat atau penilaian atas saran – saran yang diterima.
e. Memeberikan penjelasan dengan contoh – contoh yang lebih dapat mengembangkan pengertian.
f. Menunjukkan kaitan antara berbagai gagasan atau saran-saran dan mencoba mengusulkan rangkuman gagasan atau saran menjadi satu kesatuan.
g. Merangkum gagasan-gagasan yang ada kaitannya satu sama lain menjadi satu dan mengungkapkan kembali gagasan tersebut setelah didiskusikan dalam kelompok.
h. Menguji apakah gagasan-gagasan tersebut dapat dilaksanakan dan menilai keputusan-keputusan yang akan dilaksanakan.
i. Membandingkan keputusan kelompok dengan standar yang telah ditetapkan dan mengukur pelaksanaannya dengan tujuan yangb telah ditetapkan.
j. Menentukan sumber-sumber kesulitan, menyiapkan langkah-langkah selanjutnya yang diperlukan, dan mengatasi rintangan yang dihadapi untuk mencapai kemajuan yang diharapkan.

2. Fungsi pemeliharaan.
Fungsi ini mengusahakan kepuasan, baik bagi pemeliharaan dan pengembangan kelompok untuk kelangsungan hidupnya. Yang termasuk fungsi ini antara lain :
a. Bersikap ramah, hangat dan tanggap terhadap orang lain, mau dan dapat memujiorang lain atau idenya, serta dapat menerima dan menyetujui sumbangan fikiran orang lain.
b. Mengusahakan kepada kelompok, mengusahakan setiap anggota berbicara dengan waktu yang dibatasi, sehingga anggota kelompok lain berkesempatan untuk mendengar.
c. Menentukan penggunaan standar dalam pemilihan isi, prosedur dan penilaian keputusan serta mengingatkan kelompok untuk meniadakan keputusann yang bertentangan dengan pedoman kelompok.
d. Mengikuti keputusan kelompok, menerima ide orang lain, bersikap sebagai pengikut/pendengar sewaktu kelompok sedang berdiskusi dan mengambil keputusan.
e. Menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat dan bertindak sebagai penengah untuk mengkompirmasikan pemecahan masalah.


































DAFTAR PUSTAKA